04
Apr
09

Watchmen


Who’s watching the Watchmen ?

watchmen_18Bbrp minggu lalu, aku mendapat isu ada kemungkinan Watchmen tidak beredar di Indonesia karena nyangkut di LSF. Terlepas dari benar-tidak, karena minggu lalu ada kesempatan, aku menyeberang ke tetangga dan menontonnya di sana.

‘Watchmen’ berawal dari sebuah novel-grafis (komik) yg ditulis oleh Alan Moore. Film/komik ini bercerita tentang sekelompok ksatria bertopeng (masked-heroes) yang melawan kejahatan di alternate-history tahun 1985 di mana presiden AS masa itu masih Richard Nixon (term ke empat). Masa itu adalah masa dimana perang dingin antara AS dan Rusia memuncak dengan ancaman perang nuklir. Saat itu sebenarnya telah diundangkan (Keene-Act) yang melarang masked-vigilante kecuali yg diakui dan dikontrol pemerintah. Beberapa orang ksatria bertopeng ini memutuskan untuk muncul kembali dan bergabung setelah seorang rekan mereka terbunuh dan mereka bertekad untuk membuka tabir misteri yg melatar-belakanginya. Hanya saja, di penghujung perjuangan, mereka menemukan plot yg ternyata lebih besar dan lebih mengerikan.

Mereka adalah Rorschach, Silk Spectre (II), Nite Owl (II), Ozymandias dan The Comedian. Mereka juga ditemani oleh Doc. Manhattan. Yang menarik dari cerita ini adalah, para ksatria bertopeng ini bukanlah super-hero seperti biasanya yang mempunyai kemampuan lebih/super (kecuali Manhattan). Mereka hanyalah orang2 biasa yang menggunakan kostum dalam kesadaran mereka untuk melakukan sesuatu yg lebih. Dengan latar belakang itu pula, mereka hanyalah manusia biasa dengan segala kemanusiawiannya. Tidak ada hitam-putih di sini. Tokoh favoritku (seperti juga banyak yang lain) adalah Rorschach. Di balik ‘kelainan’ dirinya, dia adalah tokoh paling konsisten di cerita ini.

No .. Not even in the face of armageddon … Never compromise
(-Rorschach, Watchmen-)

Film ini berdurasi 162 menit, sehingga menggagalkan rencanaku untuk melihat film kedua (back-to-back), aku kehabisan waktu dan harus segera pulang. Film ini mencoba setia pada komiknya, sehingga akhirnya harus berdurasi sepanjang itu. Tapi kesetiaan ini juga membuat beberapa orang berpendapat bahwa ceritanya bertele-tele, hanya bagian akhir pace-nya meningkat. Bahkan ada yg bilang, kalao belum baca komiknya, nggak akan mengerti ceritanya. Aku merasa berhasil mengerti cerita utamanya (main-plot), tapi kabur pada sub-plot tentang latar-belakang tokoh2-nya, friksi diantara mereka, dll. Mungkin juga karena faktor bahasa, karena di negara tetangga ini kebetulan mereka menggunakan sub-title mandarin sehingga aku tidak punya backup bila ada kata2 yg terlewat.

Aku sengaja membaca komiknya belakangan, karena biasanya film yg diangkat dari novel atau komik sering mengecewakan. Hanya sedikit yang berhasil seperti novel/komik-nya. Dan setelah membaca komiknya memanglah mengecewakan
. Secara cerita, film ini berusaha setia, tetapi yang membuat komiknya menarik adalah ceritanya yang berlapis-lapis. Selain cerita utama, masih ada cerita latar belakang masing2, masih ada tulisan2 berupa dokumen fiksi yang menunjang cerita, bahkan ada cerita lain (komik) yang menyelip sebagai komik yang dibaca oleh seseorang.

Yang paling menyedihkan adalah usaha sang director untuk eksagerasi yang berlebihan. Watchmen bukan komik untuk anak2, selain kompleksitas cerita, juga kekerasan yang digambarkan. Tetapi, walaupun kekerasan bertebaran di halaman komik itu, tidaklah sebrutal kekerasan yang ditayangkan dilayar. Perlukah kebrutalan itu digambarkan demikian ? Sungguh kebalikan dari film ‘Wanted’ yang sangat melunakkan kekerasan di komiknya.

Secara keseluruhan, film ini menarik tapi melelahkan. Aku suka film ’super-hero’ yang masih memanusiakan dirinya seperti ‘Hancock’, ‘Batman’, dll. Bagi yang suka visual-fx akan cukup dimanjakan di sini.

Nonton lagi ? tunggu DVD original saja .. capek, sungguh .. :D

This city is afraid of me. I’ve seen its true face

Notes: Alan Moore tidak tertarik oleh Holywood, sehingga ia tidak pernah ingin terlibat dalam pembuatan film2 yg diadaptasi dari komiknya (seperti From Hell dan The League of the Extraordinary Gentlemen. Ia bahkan tidak mau melihatnya dan tidak mau juga dimasukkan namanya ke dalam credit-title. Hal ini makin parah setelah V for Vendetta difilmkan, perseteruan dengan DC Comic mencapai puncaknya, sehingga ia memindahkan seluruh karya2 barunya ke penerbit lain. Ia juga meminta namanya dicabut dari semua komik yang haknya tidak dimilikinya (termasuk V for Vendetta dan Watchmen). Ia menolak namanya dicantumkan pada film2 adaptasi komik yg tidak dimilikinya dan menolak uang dari adaptasi tadi.

Images are copyrighted and belong to the respected owners


3 Tanggapan ke “Watchmen”


  1. 1 rasyidxtreme
    Jumat, November 6, 2009 pukul 12:15

    wew tokohnya sama yg rasyid dmen, si Rorschach…sayang beut di akhir nya do’i gitu de…meletup. masih belum nangkep ma critanya gimana, keknya harus nonton lagi nih pelem…


Tinggalkan Balasan




 

April 2009
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Posts

  • Tidak ada

Halaman

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 2,321 hits

Flickr Photos

Moon + CLouds

Soekarno-Hatta T3

Soekarno-Hatta T3

More Photos

del.ico.us.ku

View Syah Inderaprana's profile on LinkedIn
Creative Commons License