07
Sep
16

Koneksi Display

Banyak sekali jenis koneksi display saat ini, lalu apa bedanya? mana sebaiknya yg dipakai?

Jenis yang populer adalah :

  • VGA (D-Sub 15)
  • DVI
  • HDMI
  • DisplayPort

Selain itu, yg kurang populer sekarang, adalah Composite, Component, dll. Lanjutkan membaca ‘Koneksi Display’

Iklan
01
Sep
16

Learn something new everyday #3

Karena di studio ada PC yg di install windows 10 dengan UK keyboard layout sebagai default, padahal pakai US/Intl keyboard (physical) jadi cari2 info via om gugel untuk login.

Untuk informasi, layout UK dan US berbeda seperti gambar di bawah:

difteclats-us-uk2

Sebelum ada yg komen untuk merubah setting windows melalui control panel; sewaktu login, setting untuk keyboard layout masih belum di-load, karena setting tadi disimpan per-user-account.

Yang jadi masalah, waktu login, kadang kita perlu mengetik ‘\’ … misalnya kalau  ingin menambah domain atau login sebgai akun lokal di lingkungan domain.

Dari gugel ditemukan beberapa opsi untuk itu :

  • Alt + 9 + 2 (tekan Alt dan tahan, tekan 9 lalu 2 lalu lepaskan Alt). Tombol 9 dan 2 pada NumPad bukan tombol angka di atas — paling umum
  • Alt Gr + tombol backslash yg normal (pada us keyboard). AltGr adalah tombol Alt paling kanan (sebelah kanan tombol space)
  • Ctrl + Alt + # (atau tombol asli backslash) — katanya bekerja untuk laptop Asus
  • AltGr + Hyphen (-) — HP Chromebook
  • ALT + FN + 92 atau ALT + FN + 9K — untuk yang tidak punya NumPad
  • Fn + Numlock (mengaktifkan numpad di keypad) lalu Alt + 92
  • Fn + # — HP Probook

Bila ada tambahan silahkan diusulkan.

Semoga bermanfaat.

25
Nov
15

Calvin said …

ch891108

Sometimes I think the surest sign that intelligent life exists elsewhere in the universe is that none of it has tried to contact us

true … *sigh

27
Nov
14

Learn something new everyday #2

Sepertinya oke juga kalo topik ini dibuat berulang …
edisi kedua, posting link saja …

7 Kata dalam Bahasa Indonesia yang Sering Terbalik Artinya

yang nomer 7 bener2 baru buatku …

06
Nov
14

Film Back/Sensor Size/Projection Plane dan fokus lensa di aplikasi 3D

terinspirasi oleh pertanyaan seorang teman, kemarin, mengenai panjang fokus lensa yang ia rasa berbeda sewaktu memakai perangkat lunak Autodesk Softimage. Ia biasa menggunakan Autodesk Maya, dan pekerjaannya sehari-hari berkutat dengan kamera virtual dalam aplikasi 3D.

Untuk memahaminya mungkin perlu sedikit pengenalan kamera. Kamera 35mm adalah format kamera paling populer hingga saat ini, karenanya banyak acuan pada kamera ini, walaupun sudah banyak sekali format2 kamera lain baik film ataupun digital yang telah beredar. Lensa ‘normal’ adalah lensa yang lebar sudut pandangnya (FOV/field-of-view) sama/mendekati mata manusia. Menurut guru fotografi saya waktu SMP dahulu kala, panjang lensa normal adalah diagonal dari ukuran film yang dipakai. Jangan tanya saya dari mana formula tadi berasal, dulu saya hanya mendengSensor_sizes_overlaid_inside_2014arkan dan ingat sampai sekarang (kalau masih penasaran, mungkin bisa cari dengan bantuan Google atau Wikipedia). Untuk film 35mm yang ukuran filmnya 24mm x 36mm, maka panjang fokus untuk lensa normalnya adalah 43.3mm .. dan biasanya digunakan 40/50/55mm. Untuk kamera format lebar 120 (6 x 4.5), lensa normalnya adalah 75mm. Saat ini, full-frame DSLR menggunakan sensor size yang sama dengan film 35mm yaitu 24mm x 36mm, sehingga lensa normalnya juga 50mm.

Karena banyak format kamera, terutama digital saat ini, sering orang menggunakan lensa normal 35mm sebagai acuan walaupun sebenarnya berbeda. Misal untuk kamera APS-C yang memiliki crop-factor 1.6 (panjang diagonal film 35mm = 1.6x ukuran sensor APS-C), sebenarnya panjang lensa normalnya adalah 30mm, tetapi untuk mempermudah sering dituliskan sebagai 50mm (35mm equivalent). Itu sebabnya, karena kekurang-tahuan, pengguna kamera APS-C yang menggunkan lensa ‘manual’ (lensa lama dari kamera 35mm) merasa sudut pandangnya berbeda (terasa lebih dekat), karena sebenarnya lensa tadi panjang fokusnya 1.6x dari yang tertulis.

Disamping dilampirkan diagram ukuran film/sensor dan perbandingannya (sumber: wikipedia.com)

Kembali ke perangkat lunak aplikasi 3D seperti Autodesk Softimage. Aplikasi 3D banyak menerapkan kaidah fotografi sehingga kita bisa temukan camera property yang merupakan terapan dari dunia nyata seperti format, focal length, film aperture, dll. Bila kita menggunakan preset kamera yang sudah disediakan, maka property-nya disesuaikan dengan kondisi nyata/sebenarnya, seperti preset kamera 35mm dengan film aperture (ukuran film) 1.4173 x 0.9447 inci yang sama dengan 36 x 24 mm.

Dengan kata kuncinya adalah 35mm equivalent, maka kita bisa menghitung dan kemudian membuat custom parameter untuk menunjukkan panjang lensa 35mm equivalent-nya. Maka didapat formula expression untuk focal length camera :

Camera.camera.projplanedist = Camera.CustomPSet.f-35mm / ( 1.703 / ( sqrt( pow( Camera.camera.projplanewidth, 2 ) + pow( Camera.camera.projplaneheight, 2 ) ) ) )

dimana :

  • Camera.camera.projplanedist : panjang fokus lensa yg dipakai
  • Camera.CustomPSet.f-35mm : Custom parameter yg kita buat untuk mengontrol panjang fokus lensa 35mm equivalent
  • Camera.camera.projplanewidth : lebar sensor
  • Camera.camera.projplaneheight : tinggi sensor
  • 1.703 : diagonal frame film 24 x 36 mm (dalam inci)

 

 

03
Jun
13

Kukembali (?) – Rekap

Duh, posting terakhir 10 Agustus 2010 .. sekarang 3 Juni 2013 .. selama itu aku absen di sini. Semoga (lagi-lagi) bisa rutin lagi.

Untuk Rekap sajah:

Aku sudah kembali ke Jakarta sejak Februari 2012. 7 tahun cukup sudah mengais rejeki di pulau sebrang. Banyak kejadian yang aku lewatkan di Jakarta terutama momen2 yang nyangkut bocah2. Hasil dari Batam, 1 film animasi, 5 film seri dan beberapa pilot-test ataupun cuma ikut pancing-pancing menyesatkan. Sekarang ikut2 tim serial TV Didi Tikus…

Aku sekarang banyak nyepeda. Dulu sempet rajin banget, akhir-akhir ini lagi kena siklus malas akut jadi berkurang. Sempat B2W juga di Jakarta trus berhenti sementara karena capek berantem dengan pengendara motor. Sepeda ada 3, MTB, Hybrid (touring), SeLi. Sempet juga ikut2an buka jalur di hutan canopy Puncak (incl. kram 4x!). Di Batam banyak juga yang suka bareng, termasuk ke DBP dan nongkrong di Kurnia Bike.

Masih hobi nonton, apalagi dengan harga benwit makin murah jadi beralih dari beli DVD ke donlod sajah. Mulai koleksi film2 HD.

Mulai motret lagi. Dari Canon Ixus (yang sudah dihibahkan kebocah) terus Canon G11 (lumayan buat ditenteng sehari-hari) dan akhirnya beli juga DSLR Canon 600D. Yang konyol, beli 600D, lalu dalam seminggu rilis 650D … grrrr…

Udah 11 bulan jadi pengguna Waze dan keterusan jadi editor juga. Sekarang lagi ikut-ikut tim terjemahan ke Bahasa Indonesia.

Pernah sibuk dengan foursquare, terus berhenti setelah jadi mayor di 24 venue. Ga tau kedepannya mo ngapain, kok cuma cek-in2 mulu… Kalo ada yang mo add friend di foursquare dan aku cuekin, maaf .. udah ga pernah di akses lagi.

Udah jadi pengguna Android, tapi juga kepleset beli iPad 😛 … Hanya karena form-factor yang lebih nyaman untuk baca eBook.

Bapak meninggal dunia, 31 Oktober 2011. Miss you dearly pak … *sniff*

Ada yang kelewat? Nanti ditambah deh …

12
Agu
10

multi-channel wav

Baru-baru ini ada klien yg membutuhkan file audio berformat .wav tetapi berisi 6 kanal. Pihak studio audio yang menjadi partner kami menyerah kebingungan. Terpaksalah kami ikut ribet demi selesainya pekerjaan ini.

Setelah googling ke sana ke mari, ada beberapa pencerahan. Umumnya format file audio dengan kanal lebih dari 2 (stereo) diperuntukan bagi surround-sound. Untuk 6 kanal, umumnya surround 5.1. ‘Format’ 5.1 biasanya menggunakan standar DTS atau AC3. DTS dulu dikenal sebagai Digital Theater Systems, tapi sekarang cukup DTS saja sebagai produk dari DTS, Inc. AC3 (atau Dolby Digital – backronym : Audio Codec 3, Advanced Codec 3, Acoustic Coder 3) adalah format surround yang dimulai oleh Dolby Laboratories. Format ini dikenal juga sebagai Dolby Digital 5.1 atau ATSC A/52, bedanya AC3 memiliki kemampuan untuk memiliki sampel audio hingga 48KHz.

Surround 5.1 menggunakan konfigurasi kanal Left, Center, Right, Left Surround, Right Surround + LFE (Low Frequency Effect). Yang agak membingungkan adalah konfigurasi channel-mapping di dalam file audio-nya. Umumnya file audio menggunakan sistem interleaving untuk tiap kanal. Urutan ini memerlukan standar tertentu untuk memastikan bahwa kanal L memang keluar di sebelah kiri atau kanal RS keluar di kanan samping/belakang.

Hasil dari riset channel mapping di internet :

  • Aac:  C – L – R – Ls – Rs – LFE
  • Ac3:  L – C – R – LFE – Ls – Rs
  • Wav: L – R – C – LFE – Ls – Rs
  • DTS:  L – R – C – LFE – Ls- Rs

untuk encoding DTS, dibutuhkan software seperti surcode DVD DTS keluaran Minnetonka Audio Software, ataupun software/hardware yang berlisensi dari DTS, Inc. Untuk AC3 sepertinya lebih mudah karena banyak encoder yang beredar bebas bisa melakukannya (seperti  WaveWizard, BeSweet, ffmpeg, dll.)

Ternyata yang lebih memusingkan adalah, klien kami membutuhkan format yg spesifik, bukan DTS ataupun AC3. Akhirnya, cara termudah untuk membuat 6-channel wav dari 6 file wav mono adalah menggunakan Audacity. Fitur ini baru muncul di Audacity versi 1.3.12b (waktu post ini ditulis, masih beta). Untuk memanfaatkannya, user harus mengaktifkan Preferences > Import/Export > Use Custom Mix. Yang kami lakukan adalah :

  • Buat proyek baru
  • Import 6 file mono
  • Export, pilih format wav (dalam hal kami, 24bit, 48KHz)
  • Pada bagian akhir proses export, muncul window untuk melakukan channel-mapping. Atur mapping sesuai kebutuhan.
  • done

Yang perlu menjadi catatan adalah, format .wav memungkinkan untuk menyimpan lebih dari 2 kanal audio, bahkan ada yg pernah mencoba membuat wav dengan 64 kanal dan berhasil (for the sake of experiment). Tetapi, tidak dianjurkan untuk tetap memakai extension .wav karena umumnya media player mengharapkan file wav hanya memiliki 2 kanal dan tidak berhasil memainkan file tadi. Karena itu umumnya file wav dengan format AC3 menggunakan extension .ac3 dan dts menggunakan .dts atau .dtswav.

1 hal lain, seiring dengan pemakaian, sulit sekali mendapatkan PC system (Windows) yang benar2 identik dalam kemampuan memutar media. Hal ini disebabkan oleh banyaknya codec yang dimanfaatkan oleh content-creator dan pemasangannya pun kadang transparan dari pengguna. Jadi, bukan tidak mungkin sebuah file audio bisa diputar di PC tertentu dan gagal di PC yang lain. Salah satu yang mungkin bisa membantu (tidak 100%) adalah pemakaian aplikasi utility seperti G-Spot yg dapat mengenali codec yang dipakai dalam file tertentu dan juga menampilkan daftar codec yg tersedia di PC tersebut.




Desember 2017
S S R K J S M
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Posts

Laman

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 12,056 hits

Flickr Photos

del.ico.us.ku

View Syah Inderaprana's profile on LinkedIn
Creative Commons License